Ambon, Maluku Post.com- Ratusan pohon jati mas milik warga adat Batlale, Kecamatan Air Buaya di Kabupaten Buru, digusur paksa oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi kabupaten guna dijadikan lahan pertanian bagi para transmigrasi.
"Sedikitnya 140 pohon jati mas yang belum layak panen milik warga adat telah dirobohkan secara paksa untuk kepentingan transmigran, namun pemkab setempat justru berupaya menggusur warga adat yang sudah menetap di daerah itu," kata Sekretaris Yayasan Pos Bantuan Hukum Kota Ambon, Hendrik Lusikoy di Ambon, Jumat (6/5).
Pohon jati mas merupakan tanaman umur panjang yang diprogramkan pemerintah sejak lama untuk dikembangkan warga agar kelak bisa meningkatkan kesejahteraan warga.
Selain pohon jati mas, penggusuran paksa juga dilakukan terhadap tanaman umur panjang milik warga adat lainnya seperti kelapa dan tanaman umur pendek yang selalu dipanen untuk kebutuhan setiap harinya.
Menurut Hendrik, yayasan telah melakukan peninjauan lapangan dan menemukan banyak pelanggaran yang dilakukan pemerintah kabupaten terhadap warga berupa penggusuran dan penyerobotan lahan maupun rumah warga.
Karena pemasangan patok untuk lahan pertanian transmigran mencapai 260 hektare dan itu sudah masuk tengah pemukiman warga.
"Setelah kembali dari Desa Batlale, kami melakukan pertemuan dengan pemprov Maluku yang dihadiri Kadis Nakertrans Maluku serta Kepala Biro Hukum setda provinsi yang mewakili gubernur Said Assagaff," ujarnya.
Namun pihak Nakertrans provinsi maupun Biro Hukum pemprov justru membantah tidak ada program pembukaan lahan pertanian bagi transmigran di Desa Batlale yang mengorbankan warga adat, tetapi Yayasan Posbankum menunjukkan bukti foto dokumentasi di lapangan.
Dokumentasi tersebut memperlihatkan tumbangnya pohon-pohon kelapa produktif maupun tanaman umur pendek lain milik warga adat Batlale.
Sehingga yayasan akan melaporkan Pemkab Buru secara pidana ke Polda Maluku dan secara perdata ke Pengadilan Negeri Ambon, termasuk melapor ke Pangdam XVi/Pattimuta, Ombudsman, serta Komisi Hak Asasi Manusia.
Sabtu, 07 Mei 2016
Sabtu, 09 Januari 2016
Sukses Organisasi, Ini Strateginya
Posted By:
Unknown
on 17.16
Sukses
Organisasi, Ini Strateginya
ORGANISASI merupakan wadah atau tempat yang menampung
pemikiran-pemikiran seseorang untuk menggapai tujuan. Organisasi yang baik
ialah organisasi yang mampu mewujudkan keinginan banyak orang. Sebab,
organisasi merupakan orang-orang pilihan yang bertekad melakukan perubahan demi
orang banyak dengan cara bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki satu
tujuan yang sama.
Di samping sikap dasar maka dalam penerapannya dibutuhkan
serangkaian strategi. Sehingga dengan demikian sukses dapat dicapai secara
efektif dan efisien. Pada dasarnya setiap organisasi yang sedang bersaing atau
orang yang sedang berkompetisi selalu memiliki strategi. Strategi yang
diperlukan untuk mencapai sukses adalah sebagai berikut:
1. Fokus pada pareto
Artinya seseorang harus mampu menentukan urutan-urutan
aktifitas yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang hendak
dicapai berdasarkan kepentingan. Untuk memudahkan dalam pelaksanaannya
dibutuhkan perencanaan yang menditel meliputi: urutan apa saja yang harus
dilakukan, bagaimana melakukannya dan kapan harus dilakukannya serta siapa yang
harus melakukannya. Evaluasi dan improvement
yang berjalan baik.
2. Aliansi
Untuk sukses kita tidak dapat bekerja sendiri atau hanya
dilakukan seorang diri. Bantuan orang lain sangat dibutuhkan secara sinergis
sehingga tujuan dan sasaran tersebut dapat dicapai. Team Work sangat berperan, kata TEAM ialah “Together Ensure Achievement More.”
3. Diferensiasi
Artinya kita dapat melakukan secara berbeda dari orang
lain atau organisasi pada umumnya yang tujuannya adalah pencapaian sasaran atau
tujuan yang telah ditetapkan lebih efektif dan efisien. []
Referensi: Sukses Sebelum Lulus Kuliah/Karya: Roni
Indra S.Psi “Abu Fakhri Nabhan Rabbani”/Penerbit: Mutiara Hati Publishing
Minggu, 15 November 2015
Masuknya Islam di Maluku
Posted By:
Unknown
on 03.25
- Pendahuluan
Maluku atau yang dikenal secara internasional sebagai Moluccasadalah salah satu provinsi tertua di Indonesia. Ibukotanya adalah Ambon. Pada tahun 1999, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibukota di Sofifi. Provinsi Maluku terdiri atas gugusan kepulauan yang dikenal dengan Kepulauan Maluku.
Suku bangsa Maluku didominasi oleh ras suku bangsa Melanesia Pasifik yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudra Pasifik.
Banyak bukti kuat yang merujuk bahwa Maluku memiliki ikatan tradisi dengan bangsa bangsa kepulauan pasifik, seperti bahasa, lagu-lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga dan alat musik khas, contoh: Ukulele (yang terdapat pula dalam tradisi budaya Hawaii).
Mereka umumnya memiliki kulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat serta profil tubuh yang lebih atletis dibanding dengan suku-suku lain di Indonesia, dikarenakan mereka adalah suku kepulauan yang mana aktivitas laut seperti berlayar dan berenang merupakan kegiatan utama bagi kaum pria.
Sejak zaman dahulu, banyak di antara mereka yang sudah memiliki darah campuran dengan suku lain, perkawinan dengan suku Minahasa, Sumatra, Jawa, Madura, bahkan kebanyakan dengan bangsa Eropa (umumnya Belanda dan Portugal) kemudian bangsa Arab, India sudah sangat lazim mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama 2300 tahun dan melahirkan keturunan keturunan baru, yang mana sudah bukan ras Melanesia murni lagi. Karena adanya percampuran kebudayaan dan ras dengan orang Eropa inilah maka Maluku merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang digolongkan sebagai daerah Mestizo. Bahkan hingga sekarang banyak marga di Maluku yang berasal bangsa asing seperti Belanda (Van Afflen, Van Room, De Wanna, De Kock, Kniesmeijer, Gaspersz, Ramschie, Payer, Ziljstra, Van der Weden dan lain-lain) serta Portugal (Da Costa, De Fretes, Que, Carliano, De Souza, De Carvalho, Pareira, Courbois, Frandescolli dan lain-lain). Ditemukan pula marga bangsa Spanyol (Oliviera, Diaz, De Jesus, Silvera, Rodriguez, Montefalcon, Mendoza, De Lopez dan lain-lain) serta Arab (Al-Kaff, Al Chatib, Bachmid, Bakhwereez, Bahasoan, Al-Qadri, Alaydrus, Assegaff dan lain-lain). Cara penulisan marga asli Maluku pun masih mengikuti ejaan asing seperti Rieuwpassa (baca: Riupasa), Nikijuluw (baca: Nikiyulu), Louhenapessy (baca: Louhenapesi),Kallaij (baca: Kalai) dan Akyuwen (baca: Akiwen).
Dewasa ini, masyarakat Maluku tidak hanya terdapat di Indonesia saja melainkan tersebar di berbagai negara di dunia. Kebanyakan dari mereka yang hijrah keluar negeri disebabkan olah berbagai alasan. Salah satu sebab yang paling klasik adalah perpindahan besar-besaran masyarakat Maluku ke Eropa pada tahun 1950-an dan menetap disana hingga sekarang. Alasan lainnya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang labih baik, menuntut ilmu, kawin-mengawin dengan bangsa lain, yang dikemudian hari menetap lalu memiliki generasi-generasi Maluku baru di belahan bumi lain. Para ekspatriat Maluku ini dapat ditemukan dalam komunitas yang cukup besar serta terkonsentrasi di beberapa negara seperti Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Belgia, Jerman dan berbagai benua lainnya.
Mayoritas penduduk di Maluku memeluk agama Kristen dan Islam. Hal ini dikarenakan pengaruh penjajahan Portugis dan Spanyol sebelumBelanda yang telah menyebarkan kekristenan dan pengaruh Kesultanan Ternate dan Tidore yang menyebarkan Islam di wilayah Maluku serta Pedagang Arab di pesisir Pulau Ambon dan sekitarnya sebelumnya. Tempat ibadah di Provinsi Maluku pada tahun 2008 adalah Mesjid 1.188 buah, Gereja 1.022 buah, Pura 10 buah dan Wihara 4 buah. Sedangkan Pemeluk agama Islam sebesar 50,03 persen, Kristen Protestan sebesar 39,04 persen, Kristen Katholik 10,06 persen, Hindu 0,20 persen dan Budha 0,03 persen dan lainnya 0,65. Pada tahun 2008, jemaah haji yang pergi ke Mekkah sebanyak 621 orang, dimana jemaah haji terbanyak berasal dari Kota Ambon sebanyak 339 orang.
Sama seperti suku-suku bangsa lain di Nusantara, maka di Maluku juga sebelum masuknya pengaruh agama-agama resmi (Islam dan Kristen), manusia pribumi sejak dahulu telah berada dalam suasana pengaruh alam sekitarnya, yang turut membentuk cara-cara berfikir dan pandangan hidup, selaku manusia alamial, yaitu manusia yang menggantungkan hidup dan nasibnya pada kekuatan-kekuatan alam ini.
Keadaan yang demikian dengan sendirinya megnakibatkan manusia itu tidak bebas dalam menghadapi segala tantangan alam. Timbulnya rasa segan dan takut serta heran terhadap segala tantangan alam membuat dia mencari jalan untuk menemui rahasia daripada segala yang terjadi itu. Gejala kepercayaan inilah yang disebut “AGAMA atau RELIGI”, yaitu dorongan keinginan manusia untuk mendapatkan hubungan dengan yang di luar dia.
Masyarakat Maluku sebelum masuknya agama Islam dan Kristen juga sudah mempunyai agama yang dapat disebut sebagai “Kepercayaan setempat” atau Kepercayaan Asli”.
Adapun inti daripada agama asli ini ialah kepercayaan terhadap ANIMISME dan DINAMISME. Masyarakat masih menganut kepercayaan animism yaitu kepercayaan terhadap arwah orang-orang yang telah meninggal, kepada magi-magi. Mereka mengangap bahwa seluruh ala mini ada mempunyai “jiwa dan roh”. Upacara-upacara adat yang ada dewasa ini jelas memperlihatkan hal itu. Selain animisme, mereka mengenal pula “dinamisme”, yaitu kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan yang tidak berwujud yang menguasai segala sesuatu dan menakutkan.
Kepercayaan dinamisme ialah kepercayaan terhadap batu-batu, pohon atau benda lain tertentu yang dianggap mempunyai kekuatan rahasia. Ada tempat-tempat yang dianggap suci, yang mengandung hal-hal yang tahbis, tapi ada pula tempat-tempat yang menakutkan yang daripadanya diperoleh kekuatan gaib.
Selain kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan animism dan dinamisme, masyarakat Maluku dahulu juga sudah mengenal konsep-konsep tentang adanya satu roh tertinggi sebagai pencipta segala sesuatu. Jadi kepercayaan terhadap semacam Tuhan.
Mengenai penyebaran Islam di Maluku, penulis hanya membatasi pembahasan yaitu hanya seputar sejak kapan dan bagaimana proses masuknya Islam ke Maluku? Siapa yang menyebarkannya? Dan bagaimana perkembangannya?. Bedasarkan dugaan awal, bahwa Islam masuk ke daerah Maluku di bawa oleh para pedagang Islam yang singgah di Nusantara.
- Deskripsi Wilayah Maluku
Sesuai Surat Keputusan Gubernur No. 1475 Tahun 2004 tentang Penetapan Jumlah, Nama dan Nomor Kode Wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Maluku tahun 2004, secara administratif, Provinsi Maluku terdiri dari 7 (tujuh) kabupaten dan 1 (satu) kotamadya, yaitu Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Buru, Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, dan Kotamadya Ambon. Dan terdiri dari 64 Kecamatan, 886 Desa/Kelurahan.
Pada tahun 2000 jumlah penduduk di Provinsi Maluku tercatat sebanyak 1.200.067 jiwa (hasil sensus penduduk 2000), sedangkan sesuai hasil registrasi penduduk 2004 - 2006 jumlah penduduk tercatat 1.313.022 jiwa pada tahun 2004, dan tahun 2005 mencapai 1.350.156 jiwa, dan pada tahun 2006 menjadi 1.384.585 jiwa. Tercatat laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,91% per tahun.
Angka pertumbuhan penduduk antara 8 kabupaten/kota sangat bervariasi. Kabupaten Buru dan Maluku Tenggara mengalami penurunan jumlah penduduk selama tahun 2000 - 2005, sementara kabupaten lainnya mengalami peningkatan jumlah penduduk. Bahkan Kota Ambon mengalami peningkatan yang cukup tajam, yaitu mencapai 4,98%.
Penyebaran penduduk di Provinsi Maluku sangat tidak merata. Berdasarkan hasil Registrasi Penduduk 2006 persentase penduduk Kabupaten Maluku Tengah Tercatat lebih tinggi dari Kabupaten yang lain yaitu 25,81%, sementara Kabupaten Aru hanya mencapai 5,23%.
Luas wilayah Provinsi Maluku secara keseluruhan adalah 581.376 km2, terdiri dari luas lautan 527.191 km2 dan luas daratan 54.185 km2. Dengan kata lain sekitar 90% wilayah Provinsi Maluku adalah lautan.
Provinsi Maluku terletak antara 20dan 30 menit sampai 90Lintang Selatan dan 124 - 136 derajat Bujur Timur.
Provinsi Maluku merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 559 pulau, dan dari jumlah pulau tersebut terdapat beberapa pulau yang tergolong pulau besar.
- Masuknya Islam Di Maluku
Bentuk dan motivasi masuknya Islam ke Maluku tidak bisa dibicarakan lepas dari bentangan perjalanannya dari Malaka dan Jawa. Mengambil titik berangkat dari situ, berarti kita diajak untuk melihat metode-metode dasar yang dipakai para khalifah, yakni melalui tindakan ekonomi (perdagangan). Tetapi kemudian bagaimana mereka berhasil mengadaptasi diri di dalam masyarakat, dan membangun komunikasi dengan para pemimpin lokal di suatu wilayah (aspek politik), serta juga menggunakan mekanisme-mekanisme kebudayaan sebagai cara mengadaptasi diri secara efektif (aspek kebudayaan).
Setidaknya, dari sisi metode kebudayaan, setiap jejak yang ditinggalkan Islam di satu daerah juga meninggalkan bukti bahwa Islam sangat intens berdialog dengan kebudayaan masyarakat setempat. Contoh paling sederhana adalah ketika ada peninggalan mesjid-mesjid yang khas Jawa, Banten, atau juga mesjid-mesjid yang khas Maluku (seperti Mesjid Wapauwe di Hila).
Titik berangkat itu yang membuat pertemuan Islam dengan Kerajaan Ternate berlangsung tanpa masalah yang berarti. Kerangka kebudayaan orang-orang Ternate malah dijadikan sebagai batu loncatan dalam melebarkan ajaran-ajaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Para ulama lokal, malah nekat bertandang ke Gresik dan Tuban untuk memperdalam ilmu Islam, dan kembali menyebar Islam di negerinya itu.
Pendekatan yang sama pun digunakan ketika Islam mulai masuk ke Ambon, melalui Hitu. Dialog yang intens dengan kebudayaan kembali terjadi di situ. Dan itu merupakan bukti bahwa perdagangan atau aspek ekonomi hanya menjadi instrumen yang mendorong Islam bergerak dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi kebudayaan menjadi instrumen yang membangun rasa keislaman yang tinggi di dalam hidup masyarakat.
Kemudian, ketika Islam masuk ke Indonesia kekuatan koloni Eropa belum bergerak, atau dominasi perdagangan rempah-rempah masih dipegang oleh pedagang Cina dan Arab. Ketika masuk ke Indonesia, Islam merajai jalur-jalur perdagangan yang penting seperti: pesisir Sumatera di selat Malaka, semenanjung Malaya, pesisir utara Jawa, Brunei, Sulu dan Maluku. Jalur perdagangan kayu cendana di Timor dan Islam masih tetap menjadi wilayah non-Islam, dan kurang diminati pada pedagang Islam.
Walau begitu, ketegangan di kerajaan-kerajaan lokal di Maluku, seperti di Ternate tidak bisa diabaikan sebagai bagian dari fakta sejarah ketika Islam berjumpa dengan masyarakat di sana. Tetapi satu hal yang menarik adalah Islam Maluku yang terbentuk dari Ternate itu kemudian meluas ke pulau Ambon, dan terbentuk suatu Pan-Islami, yang terus berkembang ke daerah Lease. Seiring dengan itu, kerajaan Iha di Saparua menjadi simbol kekuatan Islam baru di Maluku Tengah, selain Hitu.
Islamisasi Ternate, Hitu, Lease sebenarnya berlangsung secara wajar karena kekuatan perdagangan Islam mulai terbentuk di kawasan itu. Paramitha Abdoerachman mengatakan Hitu menjadi penting karena banyak pedagang mendapat pasokan air tawar dari situ. Fakta ini pun sebenarnya sama dengan ketika Banda menjadi bandar Islam yang cukup penting, karena pasokan ikan yang enak kepada para pedagang.
Politik damai itu melahirkan simpati kelompok lokal yang semula memeluk agama asli (agama suku) menjadi penganut Islam yang rajin. Bahkan hal itu pun terlihat ketika negeri-negeri Hatuhaha Amarima kemudian menjadi pusat kemashyuran Islam tertua di Lease. Untuk yang satu ini memang perlu penelitian lebih mendalam, sebab Islam Hatuhaha Amarima memiliki tatanan ritus Islami yang khas dan kontekstual, seperti ritus Puasa dan Haji.
Di Maluku kita akan menemui bagaimana orang-orang Islam Tulehu, Liang, Tial, Hila, Latu, Kasieh, Lisabata, Pelauw, Ori, Kailolo, Iha, menggunakan bahasa ibu mereka dalam komunikasi sesehari. Bahasa Arab menjadi bahasa agama yang digunakan dalam upacara sakral agama, tetapi kesehariannya menggunakan bahasa setempat. Fenomena ini tidak lagi ditemui pada negeri-negeri Kristen, kecuali di Maluku Tenggara, tetapi juga sudah mulai ditinggalkan oleh generasi mudanya.
Pada sisi ini, Islam Maluku adalah suatu hasil adaptasi kebudayaan yang sangat penting. Dalam adaptasi itu bagaimana struktur bahasa setempat dijadikan sebagai mekanisme penyebaran ajaran agama, dan ditempatkan sebagai unsur yang penting.
Hal ini yang membuat corak kultural di dalam Islam begitu kuat, karena itu agamanya menjadi gampang diterima dan dipandang sebagai agama yang “membawa damai”. Unsur kedamaian yang dirasakan itu adalah ketika masyarakat tetap berkomunikasi dengan bahasanya, sehingga mereka tidak merasa teralienasi dari kelompok besar.
Memang dalam menentukan corak kultural kepada Islam Maluku kita perlu mempertimbangkan kembali beberapa hal seperti, sejauhmana Islam Maluku itu memanfaatkan ritus-ritus adat sebagai suatu bentuk kontekstualisasinya. Orang Islam, menurut Chauvel, memang tidak suka dengan struktur raja seperti diintroduksi oleh Eropa, dan karena itu malah menganggap [sebagian dari] adat sebagai yang mengandung unsur kafir dan haram.
Tetapi adaptasi Islam Maluku ke dalam bahasa setempat memperlihatkan suatu corak beragama yang unik.
Agama Islam memasuki kepulauan Maluku jelas melalui pedagang-pedagang dan mubalig-mubalig Islam yang ikut bersama mereka. Mengenai tanggal waktu yang tepat dan di daerah mana mula-mula agama ini masuk dan berkembang tidak/belum dapat dipastikan. Namun yang jelas ialah bahwa kira-kira pada abad pertengahan ke 15 agama Islam ini sudah dianut dan bertumbuh pada kerajaan-kerajaan di Maluku Utara.
Menurut Sejarah, pada abad ke 10 dan abad ke 11 sudah ramai perniagaan rempah-rempah di Kepulauan Maluku, terutama cengkeh dan pala, yang dilakukan orang Arab dan Persia.
Diceritakan bahwa di Ternate telah datang seorang ulama Islam yang bernama Datu Maulana Husein. Ulama ini sangat pandai membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan menarik, sehingga penduduk yang mendengarkannya jadi tertarik. Sebelum penduduk diajarkan membaca Al-Qur’an, diharuskannya mengucapkan dua kalimat syahadat, sehingga sejak saat itu mulailah penduduk Ternate masuk dan menerima Islam sebagai agamanya.
Atas ajakan Datu Maulana Husein, maka raja Ternate saat itu, Gapi Buta menerima Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Zainal Abidin (14651486 M) yang setelah mangkat baginda disebut Sultan Marhum pada tahun 1486 M.
Sumber sejarah lama dan cerita rakyat secara tradisonal menyebutkan bahwa semua sultan yang memerintah di empat kerajaan utama di Maluku Utara, berasal dari keturunan Jafar Sadik, seorang bangsa Arab keturunan Nabi Muhammad saw. Jafar Sadik kawin dengan puteri Nur Safah, yang tiba di Ternate pada tanggal 10 Muharram 470 H (kira-kira 1015 M). selanjutnya diceritakan bahwa dari perkawinan ini mereka dikaruniai delapan orang anak, empat putra dan empat putri. Keempat putra ini menjadi sultan-sultan pertama dari keempat kerajaan yaitu Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.
- Kerajaan Bacan, sultan pertamanya adalah Kaitjil Buka.
- Kerajaan Ternate, sultan pertamanya adalah Sultan Masyhur Malamo. Sultan ke-44 yaitu sultan terakhir adalah Sultan Iskandar Muhammad Jabir.
- Kerajaan Tidore, yang menjadi sultan pertama adalah Sultan Suhadjati, bergelar Muhammad Bakil pada tahun 502 H. sultan ke-35 (sekarang) adalah Sultan Zainal Abidin Alting yang dinobatkan pada tahun 1366 H/1947 M.
- Kerajaan Jailolo, sultan pertamanya adalah Darajati. Sultan ke-16 (yang terakhir) adalah Sultan Tolabuddin.
Menilik berita yang dibawakan oleh pengembara Arab di zaman itu, di antaranya berita dari pengembara al-Mas’udi, maka orang Arab memang telah sampai ke Timur Jauh pada abad 6, abad 7, dan 9, dan seterusnya. Sebelum penjajah Portugis, orang Arablah yang memegang kendali perniagaan di Selat Malaka sampai ke Tionkok. Di Canton telah didapati orang-orang Arab dan pos perniagaan mereka.
Kemudian Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan di kepulauan Maluku. Dalam sejarah perkembangannya, kedua kerajaan tersebut bersaing untuk memperebutkan kekuasaan politik dan ekonomi. Tidak jarang mereka melibatkan kekuatan-kekuatan asing, seperti Portugis, Spanyol dan Belanda. Kekuatan-kekuatan asing tersebut dalam perkembangannya berambisi pula untuk menguasai secara monopoli perdagangan rempah-rempah di kawasan ini. Persaingan antara kerajaan Ternate dan Tidore diperburuk dengan ikut campurnya bangsa Portugis yang membantu Ternate dan bangsa Spanyol yang membantu Tidore. Setelah memperoleh keuntungan, kedua bangsa barat tersebut bersepakat untuk menyelesaikan persaingan mereka dalam Perjanjian Saragosa ( 22 April 1529). Hasil perjanjian tersebut, Spanyol harus meninggalkan Maluku dan menguasai Philipina, sedangkan Portugis tetap melakukan perdagangan di kepulauan Maluku.
Walaupun sedang bersaing memperebutkan hegemoni di kawasan tersebut, kerajaan-kerajaan di Maluku tetap tidak menginginkan bangsa-bangsa barat mengganggu kegiatan perdagangan di kawasan tersebut. Hal itu merupakan salah satu ciri kerajaan-kerajaan Islam di Maluku. Oleh karena itu, mereka selalu mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan asing. Misalnya, perlawanan yang dilakukan oleh Sultan Hairun (1550 – 1570 M) dan perlawanan Sultan Baabullah (1570-1583). Perlawanan yang terakhir ini mampu memaksa bangsa Portugis meninggalkan Maluku dan memindahkan kegiatannya ke Timor Timur (sekarang Timor Leste). Adapaun perlawanan terhadap Belanda dilakukan pada masa pemerintahanSultan Nuku (1780 – 1805 M).
Di Tidore datang pula sorang pendakwah alim dari tanah Arab bernama Syekh Mansur. Atas ajakan Syekh Mansur ini, maka Raja Tidore yang bernama Kolano Giriliyati masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Jamaluddin.
Dalam penyebaran Islam ke Sulu dan Mindanau, Kesultanan Ternate berperan besar. Menurut berita bangsa Spranyol, pada tahun 1857 M penyebar-penyebar Islam ke Mindanau itu datang dari Brunei dan Ternate. Di Mindanau para penyebar Islam ini mendirikan madrasah dan masjid.
Masuknya Islam di daerah Pulau Seram Barat adalah dimulai dari daerah Latu dan Bualoy. Disebtukan bahwa pnyebar Islam di daerah ini adalah Maulana Zainal Abidin.
Pemeluk Islam pertama adalah Kapiten Nunusaku (Kapitan Iho Lussy) yang berguru kepada Maulana Zainal Abidin, setelah Iho Lussy memperoleh ilmu agama Islam yang cukup, maka ia pun aktif berdakwah seperti gurunya. Sebagian besar penduduk di daerah Seram memeluk agama Islam adalah berkat jasa kedua pendakwah ini. Setelah Kapitan Iho Lussy wafat maka tugas dakwah Islam dilanjutkan oleh anaknya yaitu Muhammad Lussy.
Masuknya Islam didaerah Maluku Tengah adalah melalui pedagang Islam yang datang dari Jawa Timur. Pusat Islam di Jawa Timur sesudah runtuhnya Majapahit adalah Gresik. Dari Gresik inilah datang ulama Islam bersama para pedagang ke Pulau Ambon, dan mereka semua berpusat di kota pelabuhan Hitu. Jadi, Hitu menjadi pusat penyebaran Islam pada daerah sekitarnya pada tahun 1500 M. diduga masuknya Islam di Pulau Kei pada tahun 1500 M.
Diperkenalkannya agama Islam kepada penduduk Maluku mengakibatkan timbulnya proses Islamisasi. Proses religious cultural ini berpengaruh pada bidang politik pemerintahan sehingga timbul Kerajaan Islam. Islam juga memperkaya hukum adat setempat. Hukum Islam Nampak bergandengan dengan hukum adat. Penggunaan huruf Arab oleh raja-raja, bangsawan, dan penduduk setempat memperkaya pula bahasa daerah. Dari sudut kultur, agama Islam ikut pula menentukan corak kebudayaan masyarakat Maluku yang bercorak Islam.
Pada tahun 1564 M telah disepakati suatu perjanjian oleh Portugis dan Ternate. Untuk mereayakan penandatanganan perjanjian ini, Portugis mengundang Sultan Khairun untuk datang ke kapal Portugis. Yang tidak disukai oleh Sultan Khairun adalah usaha Kristenisasi oleh orang Portugis terhadap rakyatnya yang sudah memeluk Islam. Di saat perjamuan di atas kapal Portugis itu, Sultan Khairum ditikan secara keji oleh salah seorang pengawal/adik dari Gubernur De Mesquite sehinga beliau tewas.
Setelah kejadian ini, putra Sultan Khairun, yaitu Babullah naik tahta menggantikannya. Sultan Babullah (1570-1583 M) memaklumkan perang kepada Portugis. Sultan Tidore berdiri di belakang Ternate. Benteng pertahanan Portugis di Ambon diserbu pasukan Sultan Babullah sehingga bedera Portugis di sini diturunkan orang Ternate/ Tidore dari bentengnya. Kemudian benteng Portugis ini dibakar hingga habis dan orang Portugis yang masih hidup menyingkir ke Malaka.
Sampai tahun 1580 M Ternate dengan Sultan Babullah telah meluaskan kekuasannya ke pulau-pulau sekelilingnya sehingga membentang dari Pulau Mindanau (Filiphina) sampai ke Sumbawa (ini dari utara ke selatan) dan dari Irian ke Sulawesi (dari timur ke barat) termasuk Pulau Buton. Juga Ternate mengirimkan para pendakwah untuk mengajak masuk Islam kepada Buton, Makassar (Ujung Pandang), dan Gowa di Sulawesi. Sultan Babullah mangkat pada tahun 1583 M.
Masjid sebagai bangunan-bangunan sacral dari agama Islam mulai dikenal di Maluku meskipun corak bangunannya itu sendiri mempunyai corak Indonesia dengan atap yang bersusun. Dengan demikian dilihat dari sudut kultur, maka agama Islam turut menentukan corak kebudayaan di daerah Maluku, yaitu kebudayaan yang bercorak Islam.
- Penutup
Agama Islam memasuki kepulauan Maluku jelas melalui pedagang-pedagang dan mubalig-mubalig Islam yang ikut bersama mereka. Mengenai tanggal waktu yang tepat dan di daerah mana mula-mula agama ini masuk dan berkembang tidak/belum dapat dipastikan. Namun yang jelas ialah bahwa kira-kira pada abad pertengahan ke 15 agama Islam ini sudah dianut dan bertumbuh pada kerajaan-kerajaan di Maluku Utara.
Diperkenalkannya agama Islam kepada penduduk Maluku mengakibatkan timbulnya proses Islamisasi. Proses religious cultural ini berpengaruh pada bidang politik pemerintahan sehingga timbul Kerajaan Islam. Islam juga memperkaya hukum adat setempat. Hukum Islam Nampak bergandengan dengan hukum adat. Penggunaan huruf Arab oleh raja-raja, bangsawan, dan penduduk setempat memperkaya pula bahasa daerah. Dari sudut kultur, agama Islam ikut pula menentukan corak kebudayaan masyarakat Maluku yang bercorak Islam.
Daftar Pustaka
Buku Rujukan :
Alwi, Des. Sejarah Maluku, Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon.Jakarta: Dian Rakyat. 2005.
Monografi Daerah Maluku. T.k: Proyek Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. T.t.
Putuhena, Saleh. “Sejarah Agama Islam di Ternate”, dalam E.K.M. Masinambouw, eds., Halmahera dan Raja Ampat. Jakarta: Pt. Bhratara. 1980.
Reid, Anthony. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Pengantar oleh. R.Z. Leirissa, Jakarta: LP3ES. 2004.
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004. Jakarta: Serambi. Cetakan kedua.2005.
Syamsu As, M. Ulama Pembawa Islam Di Indonesia. Jakarta: Lentera. 1999.
Sumber Internet :
Wahid. Kerajaan Ternate Dan Tidore.http://id.shvoong.com/humanities/history/1901773-kerajaan-ternate-dan-tidore/. 2009. Di Unduh pada 20/11/2011. Pukul 15:44.
Maluku. http://id.wikipedia.org/wiki/Maluku. Di Unduh pada 20/11/2011. Pukul 15:26.
Maspaitella, Elifas. Islam Maluku. Ambon:http://kutikata.blogspot.com/2008/05/islam-maluku.html. 2008. Di Unduh pada 20/11/2011. Pukul 15:37.
Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku. Provinsi Maluku. Ambon:http://maluku.bps.go.id/?pilih=mal. Di Unduh pada 20/11/2011. Pukul 15:30.
Ahira, Anne. Sejarah Islam Di Nusantara.http://www.anneahira.com/sejarah-islam-di-nusantara.htm. Di Unduh pada 20/11/2011. Pukul 15:39.
Perkembangan Kerajaan Islam di Nusantara. http://www.e-dukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Pokok/view&id=149&uniq=2570. Di Unduh pada 20/11/2011. Pukul 15:41.
Sabtu, 14 November 2015
Sakit Merupakan Nikmat dan Anugerah
Posted By:
Unknown
on 00.59
Pernah sakit?
Apa yang Anda rasakan?
Senang, gembira, sedih, jengkel, atau…?
Senang, gembira, sedih, jengkel, atau…?
Tahukah temen-teman, bahwa sakit yang menimpa kita, penderitaan yang kita alami, kesempitan yang kita rasakan, kesulitan yang menggelisahkan, … ; merupakan kenikmatan dan anugerah yang diberikan Allah kepada kita?
Yang kenikmatan ini tidak diberikan kepada setiap orang dan setiap saat….
Bagaimana mungkin? Nggak masuk akal ya?
Jangan keburu percaya, jangan tergesa-gesa mempercayai sesuatu sebelum Anda memperoleh penjelasan mengenai hal tersebut!
Simak dulu tulisan berikut:
Simak dulu tulisan berikut:
Ketika sakit menghampiri kita, ada dua hal yang mesti kita ingat:
1. Bahwa sakit yang kita alami ini datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
”Tiada sesuatupun bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi menyombongkan diri.” (Al-Hadid:22-23)
2. Bahwa sakit itu baik bagi kita.
Di balik sakit yang kita alami, terdapat hikmah dan faidah yang besar, yang itu baik dan bermanfaat untuk kita. Tentunya apabila ketika sakit itu datang kita hadapi dengan kesabaran.Diantara hikmah dan faidahnya adalah:
Di balik sakit yang kita alami, terdapat hikmah dan faidah yang besar, yang itu baik dan bermanfaat untuk kita. Tentunya apabila ketika sakit itu datang kita hadapi dengan kesabaran.Diantara hikmah dan faidahnya adalah:
a. Diampuni dosa dan kesalahan
”Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.” (HR. Bukhari-Muslim)
”Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.” (HR. Bukhari-Muslim)
”Tidaklah seorang Muslim ditimpa gangguan berupa penyakit dan lain-linnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.” (Bukhari-Muslim)
b. Ditinggikan derajatnya
”Tidaklah seorang mukmin tertusuk duri atau yang lebih kecil dari duri, melainkan ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan.” (Diriwayatkan Muslim)
”Tidaklah seorang mukmin tertusuk duri atau yang lebih kecil dari duri, melainkan ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan.” (Diriwayatkan Muslim)
Dari Aisyah, dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
”Tidaklah seorang Mukmin itu tertimpa penyakit encok sedikit pun, melainkan Allah menghapus darinya satu kesalahan, ditetapkan baginya satu kebaikan dan ditinggalkan baginya satu derajat.” (Ditakrij Ath-Thabrani dan Al-Hakim. Isnadnya Jayyid)
”Tidaklah seorang Mukmin itu tertimpa penyakit encok sedikit pun, melainkan Allah menghapus darinya satu kesalahan, ditetapkan baginya satu kebaikan dan ditinggalkan baginya satu derajat.” (Ditakrij Ath-Thabrani dan Al-Hakim. Isnadnya Jayyid)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
”Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa menghantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai ke kedudukan itu.” (Ditakhrij Abu Ya’la, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim; Menurut Syaikh Al-Albany: hadits hasan)
”Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa menghantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai ke kedudukan itu.” (Ditakhrij Abu Ya’la, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim; Menurut Syaikh Al-Albany: hadits hasan)
c. Pembuka jalan ke Surga
”Allah Subhanahu berfirman: ‘Hai anak Adam, jika engkau sabar dan mencari keridhaan pada saat musibah yang pertama, maka Aku tidak meridhai pahala bagimu selain surga.”’ (Ditakhrij Ibnu Majah; Menurut Syaikh Al-Albany: hadits hasan)
Wahai Saudaraku, bukankah sakit merupakan bagian dari musibah?
”Allah Subhanahu berfirman: ‘Hai anak Adam, jika engkau sabar dan mencari keridhaan pada saat musibah yang pertama, maka Aku tidak meridhai pahala bagimu selain surga.”’ (Ditakhrij Ibnu Majah; Menurut Syaikh Al-Albany: hadits hasan)
Wahai Saudaraku, bukankah sakit merupakan bagian dari musibah?
d. Keselamatan dari api neraka
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa beliau menjenguk seseorang yang sedang sakit demam, yang disertai Abu Hurairah. lalu beliau bersabda (yang artinya):
”Bergembiralah, karena Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Inilah neraka-Ku. Aku menganjurkannya menimpa hamba-Ku yang mukmin di dunia, agar dia jauh dari neraka pada hari akhirat.” (Ditakhrij Ahmad, Ibnu Majah, dan AL-Hakim. Menurut Syaikh Albani: isnadnya shahih)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa beliau menjenguk seseorang yang sedang sakit demam, yang disertai Abu Hurairah. lalu beliau bersabda (yang artinya):
”Bergembiralah, karena Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Inilah neraka-Ku. Aku menganjurkannya menimpa hamba-Ku yang mukmin di dunia, agar dia jauh dari neraka pada hari akhirat.” (Ditakhrij Ahmad, Ibnu Majah, dan AL-Hakim. Menurut Syaikh Albani: isnadnya shahih)
e. Menjadikan kita ingat kepada Allah dan kembali kepada-Nya
Biasanya ketika seseorang dalam keadaan sehat wal afiat, suka tenggelam dalam kenikmatan dan syahwat. Menyibukkan diri dalam urusan dunia dan melalikan Allah, yang tidak jarang terjerumus dalam kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika Allah mencobanya dengan sakit atau musibah lain, dia akan ingat kepada Allah, bertobat, dan kembali memenuhi hak-hak Allah yang telah dia tinggalkan.
Biasanya ketika seseorang dalam keadaan sehat wal afiat, suka tenggelam dalam kenikmatan dan syahwat. Menyibukkan diri dalam urusan dunia dan melalikan Allah, yang tidak jarang terjerumus dalam kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika Allah mencobanya dengan sakit atau musibah lain, dia akan ingat kepada Allah, bertobat, dan kembali memenuhi hak-hak Allah yang telah dia tinggalkan.
Dari Abdurrahman bin Sa’id, dari bapaknya, dia berkata, ”Aku bersama Salman menjenguk orang yang sedang sakit di Kandah. Tatkala Salman memasuki tempat tinggalnya, dia berkata, ”Bergembiralah, karena sakitnya orang mukmin itu akan dijadikan Allah sebagai penebus dosanya dan penyebab kewaspadaannya. Sedangkan sakitnya orang fajir itu laksana keledai yang diikat pemiliknya, kemudian dia melepaskannya kembali, namun keledai itu tidak tahu mengapa ia diikat dan mengapa ia dilepas.”
Maksudnya, penyakit itu merupakan penebus dosa bagi orang mukmin dan penyebab taubat dan kesadarannya dari kelalaian. Berbeda dengan orang-orang fajir, yang tetap durhaka, tidak terpengaruh oelah penyakitnya dan tidak mua kembali kepada Rabb-nya. Dia tidak tahu kalau penyakit itu menimpa dirinya, agar dia sadar dari kelalaian dan agar kembali kepada kebenaran. Ibaratnya seekor keledai yang dipegang dan diikat, kemudian dilepas kembali, namun ia tidak tahu mengapa ia diikat lalu dilepas lagi.
f. Mengingatkan kepada nikmat yang telah diberikan Allah
Sakit dapat mengingatkan kita terhadap nikmat yang telah Allah berikan ketika kita dalam keadaan sehat, dengan demikian kita semakin bersyukur kepada Allah. Seorang penyair berkata: ”Seseorang tidak mengenal tanda-tanda sehat selagi dia belum tertimpa sakit.”
Sakit dapat mengingatkan kita terhadap nikmat yang telah Allah berikan ketika kita dalam keadaan sehat, dengan demikian kita semakin bersyukur kepada Allah. Seorang penyair berkata: ”Seseorang tidak mengenal tanda-tanda sehat selagi dia belum tertimpa sakit.”
g. Mengingatkan keadaan orang-orang yang sakit
Allah menimpakan sakit kepada kita agar kita mengingat saudara-saudara kita yang sedang sakit, yang selama ini mereka kita lalaikan, sehingga kita kembali sadar dan terketuk hati kita untuk memenuhi hak-hak sauadara kita yang sedang sakit tersebut, seperti: mengunjunginya, membantu keperluannya, meringankan musibahnya, menghiburnya, membantukan mencarikan obat, mendoakannya, dll.
Allah menimpakan sakit kepada kita agar kita mengingat saudara-saudara kita yang sedang sakit, yang selama ini mereka kita lalaikan, sehingga kita kembali sadar dan terketuk hati kita untuk memenuhi hak-hak sauadara kita yang sedang sakit tersebut, seperti: mengunjunginya, membantu keperluannya, meringankan musibahnya, menghiburnya, membantukan mencarikan obat, mendoakannya, dll.
h. Mensucikan hati dari berbagai penyakit
Keadaan yang sehat bisa mengundang seseorang untuk bersikap sombong, bangga dan taajub kepada diri sendiri, sebab dalam keadaan seperti itu dia bebeas berbuat apa saja. Namun ketika sakit dataang menjenguknya, penderitaan menimpa dirinya, maka jiwanya bisa melunak, sifat-sifat sombong, takabur, dengki, membanggakan diri; dapat menjadi hilang sehingga akhirnya ia tunduk dan pasrah kepada Allah serta tekun beribadah kepada-Nya.
Keadaan yang sehat bisa mengundang seseorang untuk bersikap sombong, bangga dan taajub kepada diri sendiri, sebab dalam keadaan seperti itu dia bebeas berbuat apa saja. Namun ketika sakit dataang menjenguknya, penderitaan menimpa dirinya, maka jiwanya bisa melunak, sifat-sifat sombong, takabur, dengki, membanggakan diri; dapat menjadi hilang sehingga akhirnya ia tunduk dan pasrah kepada Allah serta tekun beribadah kepada-Nya.
i. Menjadikan kita sabar
Abdul Malik bin Abjar berkata: ”Setiap orang pasti mendapat cobaan afiat, untuk dilihat apakah dia bersyukur, atau mendapat bencana untuk dilihat apakah dia bersabar.”
Abdul Malik bin Abjar berkata: ”Setiap orang pasti mendapat cobaan afiat, untuk dilihat apakah dia bersyukur, atau mendapat bencana untuk dilihat apakah dia bersabar.”
Wahai Saudaraku!
Bukankah faidah dan hikmah yang kita dapatkan ketika sakit sangat besar? Bukankah itu merupakan kenikmatan dan anugerah? Tidakkah engkau ingin mendapatkannya?
Bukankah faidah dan hikmah yang kita dapatkan ketika sakit sangat besar? Bukankah itu merupakan kenikmatan dan anugerah? Tidakkah engkau ingin mendapatkannya?
Karena itu, Bersabarlah!
Engkau memperoleh kesempatan memperoleh janji-janji tersebut di atas….jangan sia-siakan kesempatan emas tersebut!
Engkau memperoleh kesempatan memperoleh janji-janji tersebut di atas….jangan sia-siakan kesempatan emas tersebut!
Semakin berat penderitaan, semaikin pahala dilipatkan
Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata: Saya menjenguk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedangkan beliau sedang menahan sakit karena demam, saya berkata: ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau kelihatan sedang menahan rasa sakit yang berat?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ”Benar, sesungguhnya saya sedang menahan sakit sebagaimana dua orang di antara kalian.”
Abdullah berkata: Saya berkata: ”Hal itu karena engkau mendapatkan dua pahala.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ”Benar”, kemudian beliau melanjutkan:
”Tidak ada seorang muslim tertimpa musibah baik itu sakit atau lainnya kecuali Allah menghapus kesalahan-kesalahnnya sebagaimana pohon menjatuhkan daunnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata: Saya menjenguk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedangkan beliau sedang menahan sakit karena demam, saya berkata: ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau kelihatan sedang menahan rasa sakit yang berat?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ”Benar, sesungguhnya saya sedang menahan sakit sebagaimana dua orang di antara kalian.”
Abdullah berkata: Saya berkata: ”Hal itu karena engkau mendapatkan dua pahala.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ”Benar”, kemudian beliau melanjutkan:
”Tidak ada seorang muslim tertimpa musibah baik itu sakit atau lainnya kecuali Allah menghapus kesalahan-kesalahnnya sebagaimana pohon menjatuhkan daunnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadits di atas memberikan penjelasan kepada kita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetapkan bahwa apabila penyakit bertambah berat maka pahalanya dilipatgandakan dan pelipatgandaan ini terus meningkat sampai terhapusnya kesalahan-kesalahan semuanya. Dengan kata lain beliau berkata: Beratnya penyakit mengangkat derajat, menghapuskan kejelekan-kejelekan tanpa tersisa.
Apabila kita memahami hal ini, yaitu rasa sakit atau musibah lainnya dapat menghapus dosa kita dan mengangkat derajat kita; maka hendaklah kita bersabar dan ridho terhadap hal tersebut agar kita mendapatkan apa yang dijanjikan Allah terhadap orang yang bersabar:
”Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran:146)
”Sesungguhnya hanya kepada orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10)
”Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): ‘Keselamatan atas kesabaranmu.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (ar-Raad: 23-24)
”Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran:146)
”Sesungguhnya hanya kepada orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10)
”Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): ‘Keselamatan atas kesabaranmu.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (ar-Raad: 23-24)
Apakah ini bukan suatu kemuliaan? Bukankah ini merupakan derajat yang tinggi?
Tidakkah kita menginginkan sakit yang kita alami menjadi suatu kenikmatan dan anugerah yang besar?
Jangan biarkan semua janji-janji tersebut…hilang begitu saja….
Jangan biarkan…kesempatan sudah ada di depan mata, namun kita tak sanggup meraihnya….
Klo hal ini terjadi pada kita… Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….
Tak ada kata lain yang pantas..selain: Saya mendapat musibah besar karena tidak mampu memanfaatkan kesempatan emas dengan adanya musibah yang ada pada saya…
Tidakkah kita menginginkan sakit yang kita alami menjadi suatu kenikmatan dan anugerah yang besar?
Jangan biarkan semua janji-janji tersebut…hilang begitu saja….
Jangan biarkan…kesempatan sudah ada di depan mata, namun kita tak sanggup meraihnya….
Klo hal ini terjadi pada kita… Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….
Tak ada kata lain yang pantas..selain: Saya mendapat musibah besar karena tidak mampu memanfaatkan kesempatan emas dengan adanya musibah yang ada pada saya…
Jika kamu tidak mengetahui maka itu adalah musibah, jika kamu mengetahuinya maka musibahnya lebih besar lagi….
Jika kamu tidak tahu bahwa di balik sakit ada kenikmatan yang besar, ada janji-janji Allah yang menggiurkan…itu adalah suatu musibah;
Jika kamu mengetahui hal ini (keutamaan-keutamaan sakit jika bersabar) namun luput dari memperoleh janji-janji Allah ini …, maka ini adalah musibah yang sangat besar.
Jika kamu tidak tahu bahwa di balik sakit ada kenikmatan yang besar, ada janji-janji Allah yang menggiurkan…itu adalah suatu musibah;
Jika kamu mengetahui hal ini (keutamaan-keutamaan sakit jika bersabar) namun luput dari memperoleh janji-janji Allah ini …, maka ini adalah musibah yang sangat besar.
”Sungguh unik perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur dan jika ia mendapat ujian ia bersabar, maka (hal itu) merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim)
Semoga bermanfaat, Allahu A’lam.
Sumber Utama:
-Tuhfatul Maridh, Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin, Edisi Indonesia: Hiburan bagi Orang yang Sakit, Penerjemah: Kathur Suhardi. Penerbit: Putaka Al-Kautsar, Jakarta.
Sumber Pendukung:
-Tasliyatu Ahlil Masha’ib, Muhammad bin Muhammad Al-Manjabi Al-Hambali. Edisi Indonesia: Hiburan Bagi Orang yang Tertimpa Musibah. Penerjemah: Abu Umar Basyir. Penerbit: Darul Haq, Jakarta
-Tuhfatun Nisaa’, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid. Edisi Indonesia: Bingkisan Istimewa bagi Muslimah. Penerjemah: Izzudin Karimi, Lc. Penerbit: Darul Haq, Jakarta
-Catatan-catatan pribadi, dan sumber-sumber yang tidak terikat
-Tuhfatul Maridh, Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin, Edisi Indonesia: Hiburan bagi Orang yang Sakit, Penerjemah: Kathur Suhardi. Penerbit: Putaka Al-Kautsar, Jakarta.
Sumber Pendukung:
-Tasliyatu Ahlil Masha’ib, Muhammad bin Muhammad Al-Manjabi Al-Hambali. Edisi Indonesia: Hiburan Bagi Orang yang Tertimpa Musibah. Penerjemah: Abu Umar Basyir. Penerbit: Darul Haq, Jakarta
-Tuhfatun Nisaa’, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid. Edisi Indonesia: Bingkisan Istimewa bagi Muslimah. Penerjemah: Izzudin Karimi, Lc. Penerbit: Darul Haq, Jakarta
-Catatan-catatan pribadi, dan sumber-sumber yang tidak terikat
Kisah Sabar Yang Paling Mengagumkan
Posted By:
Unknown
on 00.34
Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid diSang dokter berkata:
Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.
Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta’ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala .
Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”
Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?
Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”
Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata: “Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.
Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.
Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”
Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata: “Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.
Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.
Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya: “Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata:
“Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”
Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta’ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.
Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya.
Maka sang ibu berkata:
“Alhamdulillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta’ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.
Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu: “Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan:
“Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”
Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menagis histeris seraya berkata:
“Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.”
Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran: “Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41,o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut:
“Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”
Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam yang indah lagi agung:
(طُوْبَى لِلْغُرَبَاِء) “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.
(طُوْبَى لِلْغُرَبَاِء) “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.
Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu: “Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:
“Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.
Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..
Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu: “Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata:
“Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.
Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.
Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?
Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks?
Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks?
Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala ?
Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?
Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta’ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.
Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:
Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya:
“Siapakah mereka?” Dia menjawab, “tidak mengenal mereka.”
Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.
Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata:
“Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”
Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya:
“Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta’ala .”
Tahukah anda apa yang dia katakan?
Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.
Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.
Sang suami berkata: “Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”
Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata: “Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.” Kisah selesai.
Kukatakan:
Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta’ala .
Allah Ta’ala berfirman:
Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta’ala .
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَحُزْنٍ وَلاَ أَذىً وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا خَطاَيَاهُ
“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta’ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))
“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta’ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))
Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.
Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.
Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta’ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.
Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta’ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126) (AR)*
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126) (AR)*
Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi
Dari Kaset Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan)
Dari Kaset Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan)
Dinukil dari: http://www.qiblati.com
Langganan:
Postingan (Atom)
